Dakwah Kewajiban Setiap Muslim

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

A. Dakwah Kewajiban Setiap Muslim

1. Pengertian Dakwah

Dalam proses pengertian yang integralistik, dakwah merupakan proses yang berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban dakwah dalam rangka mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju perkehidupan yang Islami. Suatu proses yang berkesinambungan adalah suatu proses yang bukan insidental atau kebetulan, melainkan benar-benar direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terus menerus oleh para pengemban dakwah dalam rangka mengubah perilaku sasaran dakwah sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.

Sudah bukan waktunya lagi, dakwah dilakukan asal jalan, tanpa sebuah perencanaan yang matang, baik yang menyangkut materinya, tenaga pelaksananya, ataupun metode yang dipergunakannya. Memang benar, sudah menjadi sunnatullah bahwa yang hak akan menghancurkan yang batil (QS. Al-Isra: 81), tetapi sunnatullah ini berkaitan dengan sunnatullah yang lain, yaitu bahwasannya Allah Swt sangat mencintai dan meridhai kebenaran yang diperjuangkan dalam sebuah barisan yang rapi dan teratur. (QS. Ash-Shaaff: 4)

2. Tujuan Dakwah

Tujuan dakwah secara umum adalah mengubah sasaran perilaku dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam tatanan kenyataan kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatan, agar terdapat kehidupan yang penuh dengan keberkahan samawi dan keberkahan ardhi (QS. Al-A’raf: 56),

 

 

 

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

 

 

 

 

Mendapat kebaikan dunia dan akhirat, serta terbebas dari azab neraka (QS. Al-Baqarah: 202)

 

 

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

 

Tujuan-tujuan umum ini harus dirumuskan ke dalam tujuan-tujuan yang lebih operasional dan dapat dievaluasi keberhasilan yang telah dicapai (H. Roosdi A.S. 1992:2). Misalnya, tingkat keistiqamahan dalam mengerjakan shalat, tingkat keamanahan dan kejujuran, berkurangnya angka kemaksiatan, ramainya shalat berjamaah di masjid, berkurangnya tingkat pengangguran, penjual minuman keras, dan lain sebagainya.

3. Pelaku Dakwah (Da’i)

Setiap muslim dan muslimah pada dasarnya mempunyai kewajiban untuk berdakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar (HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri). Akan tetapi, dalam menghadapi berbagai masalah yang semakin berat dan kompleks, sebagai akibat tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi, globalisasi, dan tuntutan kebutuhan hidup, maka kiranya tidak memadai lagi dakwah yang dilakukan secara fardhi (perseorangan), z

Akan tetapi, hendaknya dilakukan secara jama’i, melalui kelembagaan yang ditata dengan baik dan menghimpun berbagai keahlian yang diperlukan. Persoalan pendanaan yang selalu menjadi masalah, kiranya dapat dipecahkan melalui kelembagaan ini, bahkan apabila diperhatikan ayat-ayat al-Quran (Qs. Al-Anfal: 73, Qs. At-Taubah: 71, Qs. Ash-Shaf: 4),

 

 

 

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

 

 

 

 

 

 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

 

“Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Dakwah yang dilakukan secara berjamaah dalam sebuah barisan yang kokoh, rapi dan teratur, merupakan suatu keharusan. Orang-orang kafir, di dalam menghadapi kaum muslimin, selalu bersama-sama dalam menghimpun berbagai kekuatan, bahkan kebijaksanaa, politiknya.

Persoalan Aljazair yang pemilunya dimenangkan oleh kaum muslimin dengan cara jujur dan terhormat misalnya, ternyata telah dibatalkan secara keji oleh kaum kuffar, baik kaum kuffar negerinya sendiri atau pun dari luar negeri, secara bersama-sama. Bagaimana biadapnya kaum kuffar dalam membantai kaum muslimin di Bosnia-Herzegovina, yang jauh melebihi kekejaman Hitler dangan Nazi-nya, ternyata secara bersama-sama telah didiamkan pula oleh mereka dengan berbagai macam dalih dan alasan yang sulit diterima oleh akal yang sehat. Akan tetapi, apabila ada negara yang dianggap membawa aspirasi Islam melakukan kesalahan (menurut anggapan mereka yang kufur dan biadap itu), secara bersama-sama pula mereka berusaha menghancurkannya. Tujuan mereka hanya satu, menghancrukan kaum muslimin dengan agama Islamnya, sampai sehancur-hancurnya. Yahudi dan Nasrani boleh berbeda pendapat dan pendirian diantara sesama mereka, tetapi begitu menghadapi Islam, mereka akan segera bahu membahu, saling bantu di antara mereka. Qs. Al-Anfal ayat 73

 

 

 

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

 

Mengingatkan kita, kaum muslimin, bahwa apabila kekuatan kafir itu tidak dihadapi secara berjamaah dan bersama-sama, maka yang akan terjadi adalah fitnah dan kehancuran.

 

 

 

4. Sasaran Dakwah

Agar dakwah dapat dilakukan secara efisien, maka sudah waktunya dibuat dan disusun stratifikasi sasaran. Mungkin berdasarkan tingkat usia, tingkat pendidikan dan pengetahuan, tingkat sosial ekonomi dan pekerjaan, berdasarkan tempat tinggal, dan lain sebagainya. Salah satu arti hikmah (Qs. An-Nahl: 125) adalah kemampuan untuk mengenal dan golongan dan kondisi dakwah, bahkan secara tegas Rasulullah Saw menyatakan: “Bahwasannya kami diperintahkan untuk menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan kemampuan akal manusia.”

B. Materi dan Metode Dakwah

Pada dasarnya materi dakwah adalah ajaran Islam (QS. Yusuf: 108, Qs. A-nahl: 125) yang memiliki karakter sejalan dengan fitrah manusia dan kebutuhannya (QS. ArRum: 30), Kaamil (sempurna) (Qs. AlMaidah: 3) Sirah nabawaiyah mengajarkan kepada kita bahan materi pertama yag menjadi landasan utama ajaran Islam, yang disampaikan Rasulullah Saw kepada umat manusia adalah masalah yang berkaitan dengan pembinaan akhlak salimah, keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status dan tujuan hidup manusia di dunia, dan tujuan akhir yang harus dicapainya, al-musawah, persamaan manusia dihadapan Allah Swt dan al-‘adalah, keadilan yang harus ditegakkan oleh seluruh manusia dalam menata kehidupannya. Persamaan dan keadilan ini pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari akidah salimah.

Yang perlu disadari oleh para pengemban dakwah adalah bahwa akidah yang diajarkan itu bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah Swt, karena itu merupakan fitrah manusia (Qs. Al-A’raf: 72), bahkan, orang kafir pun percaya adanya Allah Swt (Qs. Luqman: 125), akan tetapi menumbuhkan kesadaran yang dalam, bagaimana memanifestasikan akidah dalam ucapan, pikiran dan tindakan sehari-hari. Akidah yang diajarkan adalah akidah yang bersifat muharrikah, yang menggerakkan kesadaran dan ketundukan kepada Allah Swt. Aqidah yang menyebabkan seseorang ridha dan rela akan ketentuan dan syariat Allah Swt, aqidah yang menumbuhkan cinta dan benci karena Allah Swt, akidah yang menumbuhkan sikap ‘ubudiah, penghambaan hanya kepada Allah Swt, tidak kepada yang lain.

Pengajaran aqidah sekarang pun haruslah mencontoh kepada sirah nabawiyah, jika ingin melahirkan sasaran dakwah yang melahirkan iman dan istiqamah, yakni aqidah yang menumbuhkan kesadaran yang dalam sebagai hamba Allah Swt. Bukannya aqidah yang semata-mata berorientasi pada logika dan filsafat yang malah melahirkan kebingungan kepada umatnya, karena logikanya terlepas dari wahyu Allah Swt dan Sunnah rasul-Nya. Pendapat yang menyatakan bahwa rukun iman hanya lima dan bukannya enam, sebagaimana dipahami oleh jumhur kaum muslimin berdasarkan hadist shahih riwayat Imam Muslim dari Umar Bin Khaththab, adalah contoh klasik dari pengajaran aqidah yang tidak berorientasi pada kesadaran dan pengamalan, tetapi hanya bergelut kepada pemikiran yang kemudian melahirkan perdebatan. Harus kita sadari, perdebatan yang melahirkan kebingungan itulah yang dikehendaki oleh para orientalis.

Dalam kegiatan dakwah, pembentukan aqidah ini disebut juga dengan al-Qadiyatu Kubra (isu utama yang besar dan menentukan). Disamping itu, isu dan meteri dakwah yang perlu mendapatkan perhatian serius dari para pengemban dakwah adalah menyangkut pemenuhan kebutuhan primer sasaran dakwah, seperti sandang, pangan, papan,dan pendidikan. Kenyataan menunjukkan adanya orang atau kelompok orang yang secara rela ataupun terpaksa mengorbankan aqidah, akhlak, maupun kehormatan untuk memenuhi tuntutan perutnya. Peringatan Rasulullah Saw abad 14 yang lalu, “Kekafiran akan membawa kepada kekufuran”, kini mulai terbukti. Ada beberapa contoh (Ahmad Watik Pratiknya, Kedhuafaan dan Bahaya Pemurtadan Dalam Fakta dan Data, Usaha-Usaha Kristenisasi di Indonesia, 1992: 162) di Jawa Tengah tentang bagaimana kedhaifan dan kefakiran dimanfaatkan untuk menyebarkan agama dan memurtadkan umat Islam. Jika basic need (kebutuhan dasar) tidak dapat dipenuhi, maka seseorang akan mudah dipengaruhi oleh mereka yang mampu memenuhinya, meski dalam ukuran yang minimun. Yang pandai memanfaatkan momentum itu adalah kelompok Nasrani. Mereka menggunakan empat jalur propaganda. Pertama, jalur ekonomi, yaitu dengan memanfaatkan kefakiran seseorang. Kedua, jalur pendidikan, yang meskipun hasilnya baru dapat diraih dalam jangka panjang, tetapi sangat strategis. Ketiga, jalur pelayanan masyarakat. Kita tahu bagaimana LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) berorientasi kesana. Keempat, jalur politik, yang dapat disimak dari sikap mereka terhadap RUU PA, penyusunan GBHN, dan lain sebagainya.

Kendatipun kalangan Nasrani amat gigih menggunakan empat jalur itu, demikian tulis Ahmad Watik Pratiknya (Ibid, 1991: 162), tetapi kita tidak boleh pesimistis. Kita punya bukti di daerah Kentungan, Yogyakarta. Kenyataan ini segera membuktikan tesis bahwa meskipun mereka pada saat itu beralih agama karena desakan ekonomi, tetapi secara laten tetap muslim. Yang harus dicatat ialah kekafiran seseorang disektor ekonomi sebetulnya bukan faktor primer. Yang primer adalah ketergantungan sikap. Seandainya kaum dhuafa itu memiliki kepribadian kuat, betapa pun menyedihkannya kehidupan mereka, niscaya mereka tidak akan mudah tergiur oleh godaan duniawi. Strategi penanganan kaum dhuafa harus diarahkan ke arah pengembangan kemandirian.

Dakwah dalam rangka pembentukan dan pembinaan aqidah salimah disertai penanganan kebutuhan primer secara serius dan sungguh-sungguh harus menjadi garapan utama para pengemban dakwah pada saat ini. Dan itu pulalah pelajaran yang dapat disimak dari sirah nabawiyah.

 

 

Wallahu a’lam bi ash-shawab

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s